Pricebook
  1. >
  2. Artikel>
  3. Dilema AI di Indonesia: Adopsi Cepat, tapi Kesiapan Operasional IT Masih Tertinggal

Dipublish pada Jumat, 10 Jul 2026 | 11:42

Dilema AI di Indonesia: Adopsi Cepat, tapi Kesiapan Operasional IT Masih Tertinggal

manajemen itFoto: ManageEngine

Transformasi digital di Indonesia kini memasuki fase yang semakin matang seiring dengan masifnya investasi pada sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan perluasan infrastruktur digital. Namun, di balik percepatan tersebut, perusahaan-perusahaan di Indonesia kini dihadapkan pada fenomena "biaya tersembunyi", yaitu munculnya kesenjangan visibilitas atau operational blind spots dalam operasional IT mereka.

Meskipun perusahaan memiliki volume data yang lebih besar dari sebelumnya, tim IT justru semakin kesulitan untuk memahami kondisi lingkungan teknologi mereka secara real-time. Persoalan utama bukan lagi terletak pada minimnya infrastruktur, melainkan pada melimpahnya telemetri, log, dan sinyal operasional dari sistem kompleks yang justru berubah menjadi noise saat insiden terjadi.  

Kecepatan AI Memicu Jeda Pengambilan Keputusan

Kehadiran AI telah mengubah ritme bisnis secara drastis melalui akselerasi layanan pelanggan dan operasional. Namun, kompleksitas lingkungan IT yang tidak diimbangi dengan sistem pemantauan yang mumpuni, memicu terjadinya decision latency, yakni jeda waktu antara terjadinya insiden hingga organisasi berhasil memahami akar masalah dan mengambil tindakan. Dalam ekosistem bisnis digital, jeda ini berdampak langsung pada penurunan kualitas layanan, berkurangnya pendapatan, hingga terkikisnya kepercayaan pelanggan. 

Tekanan operasional ini diproyeksikan akan terus meningkat. Saat ini, tercatat sebanyak 66% perusahaan di Indonesia telah berinvestasi atau berencana mengadopsi teknologi agentic AI. Sayangnya, adopsi teknologi ini bergerak lebih cepat daripada kesiapan operasional perusahaan.

Data PwC’s Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 menunjukkan bahwa 69% pekerja di Indonesia sudah menggunakan AI dalam setahun terakhir, tetapi baru 16% yang memanfaatkannya setiap hari. Di sisi lain, pembentukan data yang masih tersebar di berbagai sistem terpisah (silo) berisiko membuat AI menghasilkan analisis yang tidak akurat, di tengah meningkatnya kekhawatiran 68% pemimpin bisnis terhadap risiko siber.  

Mengubah Sinyal Menjadi Insight Lewat Pendekatan AIOps

Menghadapi situasi tersebut, fokus manajemen IT kini mulai bergeser dari sekadar merespons setiap alarm (alert) menjadi kemampuan memahami hubungan antarinsiden secara utuh. Tanpa visibilitas yang menyeluruh, tim IT berisiko terjebak dalam menangani gejala permukaan, bukan akar penyebab masalah.

Oleh karena itu, semakin banyak organisasi yang mengintegrasikan layanan manajemen IT, pemantauan, dan sistem keamanan ke dalam satu ekosistem menggunakan pendekatan AIOps (Artificial Intelligence for IT Operations). Tujuannya adalah menyatukan data operasional dan mengenali pola insiden secara cepat agar kejelasan informasi bisa segera dicapai untuk mendukung pengambilan keputusan.  

Pentingnya Fondasi Visibilitas IT Menurut Perspektif Lokal

Pentingnya fondasi operasional IT yang solid ini ditegaskan langsung oleh perwakilan industri lokal.  "Banyak organisasi mengira tantangan terbesar mereka adalah kompleksitas. Padahal, yang kami temui di lapangan justru adalah kurangnya visibilitas terhadap keseluruhan lingkungan IT," ujar Hanief Bastian, Technical Manager ManageEngine Indonesia.  

Menurut Hanief, ketika sebuah insiden terjadi, kendala utamanya bukan karena perusahaan kekurangan data, melainkan waktu yang habis terbuang untuk menghubungkan berbagai informasi yang tersebar. "Sering kali, ketika jawabannya sudah ditemukan, dampaknya sudah telanjur meluas. Karena itu, mengurangi decision latency menjadi semakin penting, terutama ketika bisnis semakin bergantung pada AI dan operasional real-time," tambahnya.  

Sebagai penyedia solusi manajemen IT global, ManageEngine melalui divisi Zoho Corporation turut mengambil peran dalam mengatasi tantangan ini. Melalui platform manajemen terintegrasi yang didukung AI, solusi seperti ManageEngine membantu menghubungkan data dari berbagai lapisan, mulai dari endpoint, jaringan, aplikasi, server, hingga lapisan keamanan, ke dalam satu wadah tunggal.

Pendekatan ini diklaim dapat memangkas waktu pemilahan ribuan alarm harian sehingga tim IT dapat mengalihkan fokus mereka pada peningkatan kualitas layanan bisnis dan pengelolaan risiko siber yang lebih proaktif. 

Share :
Restu Aji Siswanto
1144 Posts

Gemar mengikuti perkembangan teknologi gawai, baik yang rilis di Indonesia maupun yang tidak masuk pasar lokal. Ketertarikan tersebut menjadi motivasi untuk terus memberikan informasi, rekomendasi, dan tips berbelanja melalui beragam artikel dan ulasan produk.