
Indonesia diproyeksikan memasuki fase baru ekonomi digital dengan nilai pasar yang diperkirakan mencapai USD340 miliar pada 2030. Pertumbuhan tersebut didorong oleh percepatan adopsi teknologi seperti AI, cloud, IoT, fintech, hingga sistem digital lintas industri.
Namun di balik perkembangan tersebut, ancaman keamanan siber juga disebut berkembang semakin cepat dan kompleks. Melihat kondisi ini, Indosat Ooredoo Hutchison melalui Indosat Business menyoroti pentingnya pendekatan ketahanan siber yang lebih strategis dan adaptif di tengah meningkatnya risiko AI fraud dan serangan siber terhadap enterprise di Indonesia.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Indosat Business meluncurkan whitepaper bertajuk A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience bersama pakar cybersecurity Dr. Ir. Charles Lim. Whitepaper ini membahas fenomena “resilience gap”, yaitu kondisi ketika percepatan transformasi digital berjalan jauh lebih cepat dibanding kesiapan organisasi dalam membangun ketahanan siber.
Muhammad Buldansyah, Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison, menilai bahwa keamanan siber kini bukan lagi sekadar isu teknologi, tetapi sudah menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlangsungan bisnis di era ekonomi digital.
“Indonesia sedang memasuki fase baru ekonomi digital, namun pertumbuhan digital juga harus diiringi dengan ketahanan siber yang memadai. Hari ini, cyber resilience bukan lagi isu teknologi semata, tetapi fondasi kepercayaan dan keberlangsungan bisnis,” ujar Muhammad Buldansyah.
Ia juga menambahkan bahwa kebutuhan enterprise saat ini tidak lagi hanya sebatas konektivitas dan teknologi, tetapi juga kemampuan membangun sistem keamanan digital yang lebih adaptif terhadap ancaman modern.
“Sebagai perusahaan yang mendampingi transformasi digital enterprise di berbagai sektor, kami melihat kebutuhan akan pendekatan keamanan siber yang lebih strategis dan adaptif semakin mendesak,” lanjutnya.
Dalam whitepaper tersebut, Indosat Business menyoroti peningkatan ancaman AI-related fraud yang kini mulai menjadi perhatian serius di Indonesia. Salah satu data yang disampaikan menunjukkan lonjakan AI fraud hingga 1.550% di sektor fintech Indonesia, termasuk penggunaan deepfake dan AI voice impersonation untuk penipuan berbasis identitas.

Pendekatan penipuan seperti ini dinilai semakin sulit dideteksi karena AI mampu meniru wajah maupun suara seseorang secara lebih realistis. Ancaman keamanan siber kini tidak lagi hanya menyerang sistem teknologi, tetapi juga memanfaatkan manipulasi identitas manusia sebagai celah baru.
Dr. Ir. Charles Lim menjelaskan bahwa perkembangan ancaman siber saat ini berlangsung jauh lebih cepat dibanding kemampuan banyak organisasi dalam melakukan deteksi maupun mitigasi.
“Ancaman siber berkembang jauh lebih cepat dan semakin sulit dideteksi, terutama dengan munculnya AI-enabled fraud dan deepfake. Organisasi perlu beralih dari pendekatan yang reaktif menuju cyber resilience yang lebih adaptif dan berkelanjutan,” ujar Dr. Charles Lim.
Selain AI fraud, ancaman ransomware terhadap institusi strategis nasional juga disebut terus meningkat. Whitepaper tersebut menyoroti kasus serangan terhadap pusat data nasional Indonesia pada 2024 yang sempat mengganggu lebih dari 200 layanan publik. Insiden ini disebut menjadi contoh nyata bagaimana serangan siber kini dapat berdampak langsung terhadap layanan masyarakat dalam skala besar.
Di sisi lain, kesiapan organisasi di Indonesia dalam menghadapi ancaman siber modern juga masih dinilai rendah. Berdasarkan Cisco Cybersecurity Readiness Index 2025 yang dikutip dalam whitepaper, hanya sekitar 11% organisasi di Indonesia yang dinilai siap menghadapi ancaman keamanan siber modern.
Risiko tersebut juga berdampak besar terhadap bisnis. Rata-rata kerugian akibat kebocoran data di Indonesia disebut dapat mencapai sekitar Rp15 miliar, terutama ketika perusahaan belum memiliki sistem monitoring dan respons insiden yang memadai.
Implementasi Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP) juga disebut mendorong perusahaan memperkuat kemampuan monitoring dan respons keamanan siber secara real-time, termasuk kewajiban pelaporan insiden maksimal 72 jam setelah kejadian.
Melalui whitepaper ini, Indosat Business turut membahas pendekatan seperti Zero Trust Architecture dan Human Firewall sebagai bagian dari strategi membangun cyber resilience modern. Pendekatan tersebut dinilai semakin penting karena ancaman digital kini berkembang lintas sektor, mulai dari finansial, manufaktur, pemerintahan, hingga pendidikan.
Indosat Business menilai ketahanan siber kini perlu dipandang sebagai bagian integral dari strategi transformasi digital dan daya saing bisnis jangka panjang, bukan sekadar lapisan tambahan dalam operasional teknologi.
Di tengah percepatan ekonomi digital dan meningkatnya adopsi AI, kemampuan membangun cyber resilience kini menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan bisnis sekaligus memperkuat kepercayaan terhadap ekosistem digital Indonesia.

